1) Mme.
Retno L.P Marsudi (Menteri Luar Negeri Indonesia)
Pada tanggal 08 April
2019, aku diberi kesempatan bertemu dengan Ibu Retno dalam acara “Millenials
Talks with Foreign Ministers” di Gedung Kementerian Luar Negeri RI. Ibu Retno
menjadi inspirasiku sebagai seorang Menlu setelah Bpk. Marty Natalegawa. Dalam
acara tersebut, Ibu Retno bercerita bahwa ia sudah bercita-cita menjadi seorang
diplomat sejak duduk di bangku kelas 3 SMA. Ibu Retno mengaku tertarik menjadi
diplomat, saat ia melihat acara sebuah stasiun televisi yang menayangkan
pertemuan diplomat dan orang-orang yang pergi ke luar negeri. Dimana, saat itu Ibu
Retno ingin menjadi sosok perempuan diplomat, seperti Hillary Clinton.
Awal karir Ibu Retno
dimulai pada tahun 1990, sebagai staf penerangan di Kedutaan Besar Indonesia di
Canberra, Australia. Saat ia bertugas disana, Canberra merupakan pos yang
sangat keras karena masih ada masalah Timor Timur paska insiden Santa Cruz
meletus di tahun 1991. Kemudian, pada tahun 1992 Ibu Retno sebagai seorang
diplomat bertugas untuk mengurus isu yang memojokkan Indonesia karena
pembantaian warga Timor Leste di Santa Cruz, Dili.
Pada tahun 1997,
karirnya pun terus mencuat ketika ia dikirim ke Belanda sebagai sekretaris
bidang ekonomi di Kedutaan Besar RI di Den Haag, Belanda. Selain itu, Ibu Retno
juga menjadi Direktur Eropa dan Amerika, dan pada usia 43 tahun ia menjadi Duta
Besar Indonesia untuk Norwegia dan Islandia. Saat menjalankan tugasnya sebagai
Duta Besar Indonesia di Norwegia, Ibu Retno mendapatkan penghargaan Order of Merit (Grand Officer – the Second
Highest Decoration) sebagai bukti pencapaiannya dalam mempererat hubungan
bilateral antara Indonesia dan Norwegia yang diberikan oleh Raja Nowergia dan
menjadikannya sebagai orang Indonesia pertama yang menerima penghargaan dari
Nowergia.
Di tahun 2015, Ibu
Retno juga mendapatkan penghargaan berupa medali Ridder Grootkruis in de Orde van Oranje-Nassau ketika menjadi Duta
Besar Indonesia untuk Kerajaan Belanda. Penghargaan ini diberikan karena ia
telah berhasil meningkatkan hubungan bilateral antara Indonesia dan Belanda. Dimana,
Raja Willem-Alexander der Nederlanden sendiri yang memberikan penghargaan
tersebut kepada Ibu Retno.
Tidak hanya itu, di
tahun 2017 Ibu Retno juga mendapat penghargaan sebagai Agent of Change oleh Badan PBB untuk Kesetaraan Gender dan
Pemberdayaan Perempuan (UN Women) dan
Forum Kemitraan Global (GPF) dalam
Sidang Majelis Umum (PBB). Dimana, UN
Women dan GPF menyatakan, sebagai
Menlu perempuan pertama di Indonesia, Menlu Retno adalah panutan dan inspirasi
bagi jutaan perempuan di Indonesia dan dunia. Penghargaan tersebut merupakan
upayanya dalam menyelesaikan persoalan Rohingya di Myanmar. Ibu Retno tidak
hanya diterima oleh PM. Aung San Suu Kyi, tetapi juga Panglima Angkatan
Bersenjata Myanmar, U Min Aung Hlaing yang kerap disebut media sebagai otak
kekerasan di Rakhine State, dan Penasihat Keamanan Nasional U Thaung Tun untuk
meminta penghentian kekerasan dan mencari solusi terbaik. Dan langkah diplomasi
ini pun juga mendapatkan pujian dari negara lain, seperti Turki.
“Investing
in women equals to investing in peace, and I wish to see women around the globe
empowered and become agents of peace, of tolerance and of prosperity”.
2) Mme.
Kang Kyung-wha (Menteri Luar Negeri Korea)
Dalam rangka kunjungan
Menteri Luar Negeri Republik Korea, H.E Kang Kyung-wha ke Indonesia pada
tanggal 08 April 2019. Aku juga diberi kesempatan bisa bertemu dengan beliau. Ternyata,
sebelum menjadi seorang diplomat Menlu Korea, Mme. Kang adalah seorang diplomat
yang melayani Pemerintah Korea Selatan dan PBB. Ia telah bertugas di pos-pos
penting PBB sejak tahun 2006 dan merupakan satu-satunya orang yang diberi
jabatan dalam organisasi oleh 3 Jenderal Sekretaris PBB berturut-turut sejak
Kofi Annan menjabat.
Sebelum bergabung
dengan Kementerian Luar Negeri Korea, Mme. Kang membantu Ketua Majelis Nasional
dalam Diplomasi Parlemen atau tepatnya di tahun 1998. Yang kemudian, di tahun
berikutnya 1999, Mme. Kang mulai memasuki Kementerian Luar Negeri Korea.
Di tahun 2001, Mme. Kang
menjabat sebagai Menteri di Misi Permanen Korea Selatan untuk PBB, dimana ia
memimpin Komisi Status Perempuan. Hingga tahun 2005, Mme. Kang diangkat sebagai
Direktur Jenderal Organisasi Internasional di Kementerian Luar Negeri dan
menjadi diplomat wanita kedua yang melayani di tingkat direktur.
Selama kepemimpinan
Kofi Annan di PBB, Mme. Kang diangkat sebagai Wakil Komisaris Tinggi di Kantor
Hak Asasi Manusia (HAM) PBB yang setara dengan posisi Wakil Sekretaris Jenderal
PBB dan menjadikannya sebagai perempuan Korea pertama yang diberi posisi
tertinggi dalam organisasi internasional. Yang kemudian, di tahun 2007 Mme. Kang
mulai menjabat sebagai Wakil Komisaris Tinggi untuk HAM di tingkat Asisten
Sekretaris Jenderal PBB.
Lalu di tahun 2013,
Mme. Kang diangkat oleh Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon sebagai Asisten
Sekretaris Jenderal untuk Urusan Kemanusiaan dan Wakil Koordinator Bantuan
Darurat di Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB dan setahun sebelum ia
menjadi Menlu Korea atau di tahun 2016, ia diangkat sebagai Penasihat Senior
Kebijakan untuk Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres.
Baru di tahun 2017,
Mme. Kang diangkat sebagai Menlu Korea di masa kepemimpinan Presiden Moon
Jae-in dan menjadi perempuan pertama dan terbaik yang dinominasikan ke posisi
Menlu Korea.
“I
hope someday, come a time when being the first woman in anything isn’t news
anymore”.
3) Para
Diplomat di Konsulat Jenderal RI, Johor Bahru, Malaysia
Saat aku melaksanakan
program magang di KJRI Johor Bahru di tahun 2017. Aku magang di semua fungsi
pelaksana KJRI, yaitu Ekonomi, Pensosbud, Imigrasi, dan Konsuler. Dimana, dua
diantaranya di kepalai oleh seorang perempuan.
Di tempat ini, aku
banyak belajar tentang bagaimana cara menangani WNI/TKI yang tinggal di
Malaysia. Mereka membuatku kagum dan bangga! Mereka tanpa kenal lelah membantu
setiap permasalahan yang terjadi dengan WNI/TKI.
Setiap momen yang kudapat disana
takkan pernah kulupakan, ilmu yang kudapat disana takkan pernah ku sia-siakan. Aku
bersyukur pernah menjadi bagian dari mereka. Dari mereka, aku menyadari dan
membuktikan bahwa perempuan tidak hanya bisa masak atau bergelut sebagai ibu
rumah tangga, tapi di dunia kerja yang biasanya di dominasi oleh laki-laki,
ternyata perempuan juga bisa melakukannya bahkan bisa lebih unggul. Hanya satu
kata yang dibutuhkan, yaitu tekad.
Follow me on
Youtube (https://www.youtube.com/channel/UCbuGabNtGiFnwUihjk0Ss_w)
Instagram (@fauzistiana)
Facebook (Istiana Fauzi)
Twitter (@FauzIstiana10)
Sources: femina.co.id; beritasatu.com; viva.co.id; sindonews.com; koreaherald.com; un.org; csis.org
Tidak ada komentar:
Posting Komentar