Selasa, 11 Juni 2019

Perempuan dalam Diplomasi: Mme. Retno L.P. Marsudi, Mme. Kang Kyung-wha, dan Diplomat Konsulat Jenderal RI di Johor Bahru, Malaysia


      1)    Mme. Retno L.P Marsudi (Menteri Luar Negeri Indonesia)

     Pada tanggal 08 April 2019, aku diberi kesempatan bertemu dengan Ibu Retno dalam acara “Millenials Talks with Foreign Ministers” di Gedung Kementerian Luar Negeri RI. Ibu Retno menjadi inspirasiku sebagai seorang Menlu setelah Bpk. Marty Natalegawa. Dalam acara tersebut, Ibu Retno bercerita bahwa ia sudah bercita-cita menjadi seorang diplomat sejak duduk di bangku kelas 3 SMA. Ibu Retno mengaku tertarik menjadi diplomat, saat ia melihat acara sebuah stasiun televisi yang menayangkan pertemuan diplomat dan orang-orang yang pergi ke luar negeri. Dimana, saat itu Ibu Retno ingin menjadi sosok perempuan diplomat, seperti Hillary Clinton.
     Awal karir Ibu Retno dimulai pada tahun 1990, sebagai staf penerangan di Kedutaan Besar Indonesia di Canberra, Australia. Saat ia bertugas disana, Canberra merupakan pos yang sangat keras karena masih ada masalah Timor Timur paska insiden Santa Cruz meletus di tahun 1991. Kemudian, pada tahun 1992 Ibu Retno sebagai seorang diplomat bertugas untuk mengurus isu yang memojokkan Indonesia karena pembantaian warga Timor Leste di Santa Cruz, Dili.
     Pada tahun 1997, karirnya pun terus mencuat ketika ia dikirim ke Belanda sebagai sekretaris bidang ekonomi di Kedutaan Besar RI di Den Haag, Belanda. Selain itu, Ibu Retno juga menjadi Direktur Eropa dan Amerika, dan pada usia 43 tahun ia menjadi Duta Besar Indonesia untuk Norwegia dan Islandia. Saat menjalankan tugasnya sebagai Duta Besar Indonesia di Norwegia, Ibu Retno mendapatkan penghargaan Order of Merit (Grand Officer – the Second Highest Decoration) sebagai bukti pencapaiannya dalam mempererat hubungan bilateral antara Indonesia dan Norwegia yang diberikan oleh Raja Nowergia dan menjadikannya sebagai orang Indonesia pertama yang menerima penghargaan dari Nowergia.
     Di tahun 2015, Ibu Retno juga mendapatkan penghargaan berupa medali Ridder Grootkruis in de Orde van Oranje-Nassau ketika menjadi Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Belanda. Penghargaan ini diberikan karena ia telah berhasil meningkatkan hubungan bilateral antara Indonesia dan Belanda. Dimana, Raja Willem-Alexander der Nederlanden sendiri yang memberikan penghargaan tersebut kepada Ibu Retno.
     Tidak hanya itu, di tahun 2017 Ibu Retno juga mendapat penghargaan sebagai Agent of Change oleh Badan PBB untuk Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan (UN Women) dan Forum Kemitraan Global (GPF) dalam Sidang Majelis Umum (PBB). Dimana, UN Women dan GPF menyatakan, sebagai Menlu perempuan pertama di Indonesia, Menlu Retno adalah panutan dan inspirasi bagi jutaan perempuan di Indonesia dan dunia. Penghargaan tersebut merupakan upayanya dalam menyelesaikan persoalan Rohingya di Myanmar. Ibu Retno tidak hanya diterima oleh PM. Aung San Suu Kyi, tetapi juga Panglima Angkatan Bersenjata Myanmar, U Min Aung Hlaing yang kerap disebut media sebagai otak kekerasan di Rakhine State, dan Penasihat Keamanan Nasional U Thaung Tun untuk meminta penghentian kekerasan dan mencari solusi terbaik. Dan langkah diplomasi ini pun juga mendapatkan pujian dari negara lain, seperti Turki.
“Investing in women equals to investing in peace, and I wish to see women around the globe empowered and become agents of peace, of tolerance and of prosperity”.

      2)    Mme. Kang Kyung-wha (Menteri Luar Negeri Korea)

     Dalam rangka kunjungan Menteri Luar Negeri Republik Korea, H.E Kang Kyung-wha ke Indonesia pada tanggal 08 April 2019. Aku juga diberi kesempatan bisa bertemu dengan beliau. Ternyata, sebelum menjadi seorang diplomat Menlu Korea, Mme. Kang adalah seorang diplomat yang melayani Pemerintah Korea Selatan dan PBB. Ia telah bertugas di pos-pos penting PBB sejak tahun 2006 dan merupakan satu-satunya orang yang diberi jabatan dalam organisasi oleh 3 Jenderal Sekretaris PBB berturut-turut sejak Kofi Annan menjabat.
     Sebelum bergabung dengan Kementerian Luar Negeri Korea, Mme. Kang membantu Ketua Majelis Nasional dalam Diplomasi Parlemen atau tepatnya di tahun 1998. Yang kemudian, di tahun berikutnya 1999, Mme. Kang mulai memasuki Kementerian Luar Negeri Korea.
Di tahun 2001, Mme. Kang menjabat sebagai Menteri di Misi Permanen Korea Selatan untuk PBB, dimana ia memimpin Komisi Status Perempuan. Hingga tahun 2005, Mme. Kang diangkat sebagai Direktur Jenderal Organisasi Internasional di Kementerian Luar Negeri dan menjadi diplomat wanita kedua yang melayani di tingkat direktur.
     Selama kepemimpinan Kofi Annan di PBB, Mme. Kang diangkat sebagai Wakil Komisaris Tinggi di Kantor Hak Asasi Manusia (HAM) PBB yang setara dengan posisi Wakil Sekretaris Jenderal PBB dan menjadikannya sebagai perempuan Korea pertama yang diberi posisi tertinggi dalam organisasi internasional. Yang kemudian, di tahun 2007 Mme. Kang mulai menjabat sebagai Wakil Komisaris Tinggi untuk HAM di tingkat Asisten Sekretaris Jenderal PBB.
     Lalu di tahun 2013, Mme. Kang diangkat oleh Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon sebagai Asisten Sekretaris Jenderal untuk Urusan Kemanusiaan dan Wakil Koordinator Bantuan Darurat di Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB dan setahun sebelum ia menjadi Menlu Korea atau di tahun 2016, ia diangkat sebagai Penasihat Senior Kebijakan untuk Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres.
     Baru di tahun 2017, Mme. Kang diangkat sebagai Menlu Korea di masa kepemimpinan Presiden Moon Jae-in dan menjadi perempuan pertama dan terbaik yang dinominasikan ke posisi Menlu Korea.
“I hope someday, come a time when being the first woman in anything isn’t news anymore”.

      3)    Para Diplomat di Konsulat Jenderal RI, Johor Bahru, Malaysia

     Saat aku melaksanakan program magang di KJRI Johor Bahru di tahun 2017. Aku magang di semua fungsi pelaksana KJRI, yaitu Ekonomi, Pensosbud, Imigrasi, dan Konsuler. Dimana, dua diantaranya di kepalai oleh seorang perempuan.
     Di tempat ini, aku banyak belajar tentang bagaimana cara menangani WNI/TKI yang tinggal di Malaysia. Mereka membuatku kagum dan bangga! Mereka tanpa kenal lelah membantu setiap permasalahan yang terjadi dengan WNI/TKI.
     Setiap momen yang kudapat disana takkan pernah kulupakan, ilmu yang kudapat disana takkan pernah ku sia-siakan. Aku bersyukur pernah menjadi bagian dari mereka. Dari mereka, aku menyadari dan membuktikan bahwa perempuan tidak hanya bisa masak atau bergelut sebagai ibu rumah tangga, tapi di dunia kerja yang biasanya di dominasi oleh laki-laki, ternyata perempuan juga bisa melakukannya bahkan bisa lebih unggul. Hanya satu kata yang dibutuhkan, yaitu tekad.


Follow me on
Youtube (https://www.youtube.com/channel/UCbuGabNtGiFnwUihjk0Ss_w)
Instagram (@fauzistiana)
Facebook (Istiana Fauzi)
Twitter (@FauzIstiana10)

Sources: femina.co.id; beritasatu.com; viva.co.id; sindonews.com; koreaherald.com; un.org; csis.org

Tidak ada komentar:

Posting Komentar